Baby Sky

Poems

::Desember, 2010::

bahkan, ketika kau pun harus pergi,

aku tak apa, benar tak akan apa

atau mungkin, kau lah yang tak akan apa

 

mungkin saat kau tak pernah berpikir untuk datang kembali

aku pun tak pernah berpikir untuk mengejarmu

namun aku tau, aku hilang sesuatu setiap waktu

 

dan bila saja ada seorang yang selalu ada di sisimu di sana

kau bisa saja, kau boleh saja

yang pasti, aku belum akan bisa

karena bagiku, kau belum menjadi cerita, kau masih nyata

 

bagiku, kau masih ada

 

=Rahmi Kurniasih=

Advertisements

If I Could Make a Wish

Pikiranku begitu kusut. Hari ini Ujian Akhir Semester pertamaku, dan aku merasa gagal memenuhi target IPK nantinya. Huah, sial. Bagi mahasiswa semester pertama sepertiku, aku tak pernah tahu UAS akan seperti ini adanya. Aku merasa gamang memikirkan UAS besok dan lusa. Halte tempatku menunggu bus kampus serasa sepi saja. Tak ku hiraukan orang-orang mondar-mandir di depanku. Dan suara-suara yang ada terdengar seperti bisikan saja di telingaku.

“Ranti, aku duluan ya.” Suara Debby mengalihkan perhatianku. Bus menuju kampus sudah datang, dan Debby yang dari tadi duduk di sebelahku pamit. “Oke. Sampai jumpa di asrama,” balasku.

Tiba-tiba ku sadari dari arah seberang bus kuning kampusku datang menuju asrama. Aku segera bangkit dan menyeberang. Begitu pintu terbuka, aku masuk lewat pintu belakang karena bagian depan masih didesaki oleh orang-orang yang turun. Di bagian belakang bus sangat sepi. Hanya ada aku dan seorang lelaki. Tunggu. Sepertinya ada yang aneh wajahnya. Ada sesuatu di wajahnya yang membuatku harus menatapnya beberapa saat. Dan, oh! Dia langsung menoleh padaku. Sepertinya dia sadar aku menatapnya barusan. Aku langsung memalingkan wajahku ke depan.

Tapi tetap saja godaan untuk menoleh kembali ke dia sangat besar. Oke, Ranti, cukup hapalkan wajahnya, kembali melihat lurus ke depan, nanti di kamar renungkan kembali. Aku dengan caraku mencuri pandang ke arahnya, seperti sebuah kamera ku capture wajahnya, dan saat ku hendak kembali menoleh ke depan, dia menangkap mataku dengan matanya. Tuhan! Aku tahu matanya! Aku mengenalnya!

Bus telah berhenti di depan asrama. Aku langsung turun begitu pintunya terbuka. Saat itu pulalah, aku mendengar lelaki yang berjalan di belakangku itu menyapa temannya yang sedang duduk di halte.

“Woi, mau ke mana?”

“Eh, Irfan. Ini, MPKS.”

Oke, namanya Irfan. I got it!

Sebelum kembali ke kamar, aku ke kantin dulu. Biasanya saat pikiranku sedang kacau, yang ku pikirkan adalah menyumpal mulutku dengan sesuatu. Dan ku pikir, sekarang jadwalnya es krim yang bertugas menyumpal mulutku sekaligus otakku dari hal-hal yang menggangu. Oh, pikiran tentang UAS tadi kembali membuatku harus memikirkan besok dan lusa. Apa kabarnya? Dengan agak kasar ku buka ice box dan mengambil es krim kesukaanku, coklat kacang. Saat akan menutup kembali dengan kasarnya lagi, tiba-tiba ada tangan yang hendak masuk ke ice box itu. Ups! Aku menjepit punggung tangannya dengan kasar. Aku mendongak dan kaget saat menyadari orang itu adalah laki-laki yang duduk bersamaku di bus tadi. Dia sempat ku lihat meringis sesaat.

“Maaf. Tidak sengaja. Tidak apa-apa?”

“Ah,” desahnya sambil mengibaskan pergelangan tangannya di udara, “tidak apa-apa.” Cukup lega mendengarnya. “Paling, nyeri beberapa hari.” Benarkah? Ah, sial!

Kemudian dia kembali membuka tutup ice box itu dan, sambil membayar es krimku, diam-diam ku amati, dia mengambil es krim yang sama denganku. Dan apa hebatnya dia? Dia ternyata memperhatikanku memandang es krimnya dan es krimku secara bergantian. Aku kedapatan lagi. Ketika mas-mas kantinnya masih mencari-cari recehan untuk uang kembalianku, laki-laki itu menaruh beberapa lembar ribuan di atas ice box dan berbalik pergi.

“Ini, mas, uangnya,’ ucapnya sambil berlalu.

Otak tajamku berpikir, dia tahu persis harga es krim ini. Mungkin ini adalah es krim kesukaannya pula. Hmmm. Aku mulai menerawang pada lembar-lembar komik yang sangat ku sukai. Cerita standar, saat seorang gadis tidak sengaja bertemu dengan seorang laki-laki, tertarik, atau bertengkar dulu, lalu saling suka.

Shit! Apa yang ku pikirkan. Pikiran jernihku kembali menyadarkanku. Sekarang bukan saatnya berfantasi lagi. Tiga hari ini adalah UAS yang akan menentukan IP pertamaku, harapan orang tua ku, kerja kerasku enam bulan ini, dan tentunya masa depanku juga. Aku, sambil berusaha tetap fokus bergegas menuju kamarku di gedung F2 sambil melumat es krim coklat kacang ini. (more…)


Don’t Ask Me to Let My Feelings Out!:: Story of Debby

 

Suasana kantin asrama malam ini ramai layaknya malam minggu-malam minggu sebelumnya. Tentu saja, setelah lima hari menjadi manusia abnormal yang berkutat antara kampus dan kamar, Sabtu malam menjadi manusia seutuhnya kembali. Semuanya bisa berkumpul bersama teman-teman dan berbagi banyak hal. Dan kantin asrama ini, merupakan salah satu tempat yang favorit.

Malam ini, aku sedang duduk di sebuah meja kantin bersama enam orang temanku lainnya. Ada Ami, Roza, Sari, Edo, Widio dan Dodi. Sambil menyantap makan malam, kita memulai obrolan dengan sangat renyah.

“Debby,” sahut Roza yang duduk di sebelahku. “Nanti buat UAS kita belajarnya bareng lagi ya!”

“Ok,” jawabku.

Roza, merupakan sahabatku yang paling lama di antara enam orang ini. Bayangkan saja, kita satu SMP selama tiga tahun, satu SMA, dan sekarang satu kampus. Bahkan, soal kamar asrama pun kita satu gedung, gedung E. Berbeda dengan teman-teman SMA ku lainnya yang semuanya berada di gedung F. Roza, aku suka menjadi temannya. Dia gampang bergaul dengan orang-orang baru. Menyenangkan.

Tapi, hal itu pulalah yang akhir-akhir ini membuatku iri. Dia, dekat dengan Edo. Ya, sejak acara di puncak beberapa minggu yang lalu, aku rasa aku tertarik padanya. Bukan, maksudku, aku terlalu kikuk jika ada di dekatnya. Aku selalu mencoba untuk menghindarinya, takut kalau nanti aku akan melakukan hal-hal yang bodoh karena tidak bisa berpikir jernih bila di dekatnya. Dan Roza, gampang sekali menjadi akrab dengannya. Aku tidak nyaman.

Seperti malam ini.

“Bagaimana kalau kita sekarang main truth and dare?” usul Edo pada kami. Dia sudah mengambil ancang-ancang untuk memutar botol air mineral bekas di atas meja.

“Tidak, aku tidak ikut,” jawab Widio. Kami semua menoleh padanya. Terang saja. Dia menyembunyikan banyak hal dari kami. Seberapa keras kami meminta dia bermain ini, dia tak akan pernah mau. “Aku menganggap kalian keluargaku, dengan caraku sendiri. Bukan berarti harus berbagi semua rahasiaku pada kalian.”

Oke, alhasil kami berlima bermain truth and dare sementara Widio hanya duduk menyimak jalannya permainan. Dan aku, aku cukup takut jika nanti nyasar satu pertanyaan yang menodongku dan memaksaku untuk jujur. Tapi, aku akan tetap coba untuk lanjut bermain.

Botol diputar dan saat berhenti mengacu pada Roza, kemudian Roza memutar botol itu kembali dan mengarah pada Sari.

“Sari,” Roza memulai pertanyaannya, “first lovenya kapan?” Mata Roza menilik, seolah sedang memecahkan kasus yang rumit dan berbahaya.

“Hm, kelas dua SMP!”

(more…)


Let Me Love You with My Own Way:: Story of Sari

Mataku melirik ke arah jam digital yang terpajang di bagian depan bus. 17.26. Ku sandarkan kepalaku yang terasa berat karena kegiatan kuliah seharian ini di kampus. Tiba-tiba handphoneku bergetar. Dengan malas ku rogoh tas coklat yang ku sampirkan di bahu kananku. Ternyata ada pesan masuk dari Ami.

Teman, jangan lupa ya, nanti malam pukul 19.30 akan ada rapat lanjutan roadshow kgtk di asrama. Semangat! Kontribusi untuk Nagari! J

Benar! Malam ini jadwalnya rapat KGTK lagi. Acara alumni daerahku untuk SMA- SMA di Tanah Datar liburan semester depan nanti. Aaaargh! Jujur saja, aku benar-benar letih saat ini. Tapi, bohong jika ku katakan aku tak ingin menghadiri rapat ini. Mungkin terdengar tidak ikhlas untuk berkontribusi, tapi ada hal lain yang menggodaku untuk memaksakan diri tetap hadir. Bagaimanapun, aku merindukan dia, lelaki pendiam, yang di dirinya aku menemukan sebuah kedalaman, yang jangankan untuk mencoba menyelaminya, menyentuhnya pun aku takut.

****

Seperti biasa, malam ini kami berkumpul lagi di gazebo asrama untuk membahas lanjutan persiapan roadshow KGTK. Sementara Widio berbicara memimpin jalannya rapat, Dodi, Roza, dan Avis bergantian memberikan pendapat, dan Ami yang kelihatan seperti bertepekur, tapi sebenarnya sangat sibuk mencatat poin-poin yang dihasilkan di diskusi ini.

Dan dia, lelaki pendiam itu, dalam diamnya selalu mencuri perhatianku. Lelaki itu, membuatku selalu mencoba menerka apa yang ada dalam pikirannya yang tenang. Lelaki itu, tidak perlu banyak bicara untuk membuatku selalu memikirkannya. Lelaki itu, adalah Dhanthes.

****

Rapat pertama Roadshow KGTK yang diadakan pada bulan November tahun lalu merupakan pertemuan pertamaku dengan dia. Kami berasal dari daerah yang sama, tapi tak saling mengenal sebelumnya. Mungkin di suatu kesempatan kami pernah bertemu, tapi tidak sempat berkenalan. Saat sudah sama-sama kuliah di UI, dan dengan adanya rapat roadshow KGTK ini, kami jadi saling kenal.

Aku tertarik padanya. Dengan dia yang apa adanya. Pendiam, dingin, dan dalam.

“Tttteeeettt!!!” (more…)