Baby Sky

Let Me Love You with My Own Way:: Story of Sari

Mataku melirik ke arah jam digital yang terpajang di bagian depan bus. 17.26. Ku sandarkan kepalaku yang terasa berat karena kegiatan kuliah seharian ini di kampus. Tiba-tiba handphoneku bergetar. Dengan malas ku rogoh tas coklat yang ku sampirkan di bahu kananku. Ternyata ada pesan masuk dari Ami.

Teman, jangan lupa ya, nanti malam pukul 19.30 akan ada rapat lanjutan roadshow kgtk di asrama. Semangat! Kontribusi untuk Nagari! J

Benar! Malam ini jadwalnya rapat KGTK lagi. Acara alumni daerahku untuk SMA- SMA di Tanah Datar liburan semester depan nanti. Aaaargh! Jujur saja, aku benar-benar letih saat ini. Tapi, bohong jika ku katakan aku tak ingin menghadiri rapat ini. Mungkin terdengar tidak ikhlas untuk berkontribusi, tapi ada hal lain yang menggodaku untuk memaksakan diri tetap hadir. Bagaimanapun, aku merindukan dia, lelaki pendiam, yang di dirinya aku menemukan sebuah kedalaman, yang jangankan untuk mencoba menyelaminya, menyentuhnya pun aku takut.

****

Seperti biasa, malam ini kami berkumpul lagi di gazebo asrama untuk membahas lanjutan persiapan roadshow KGTK. Sementara Widio berbicara memimpin jalannya rapat, Dodi, Roza, dan Avis bergantian memberikan pendapat, dan Ami yang kelihatan seperti bertepekur, tapi sebenarnya sangat sibuk mencatat poin-poin yang dihasilkan di diskusi ini.

Dan dia, lelaki pendiam itu, dalam diamnya selalu mencuri perhatianku. Lelaki itu, membuatku selalu mencoba menerka apa yang ada dalam pikirannya yang tenang. Lelaki itu, tidak perlu banyak bicara untuk membuatku selalu memikirkannya. Lelaki itu, adalah Dhanthes.

****

Rapat pertama Roadshow KGTK yang diadakan pada bulan November tahun lalu merupakan pertemuan pertamaku dengan dia. Kami berasal dari daerah yang sama, tapi tak saling mengenal sebelumnya. Mungkin di suatu kesempatan kami pernah bertemu, tapi tidak sempat berkenalan. Saat sudah sama-sama kuliah di UI, dan dengan adanya rapat roadshow KGTK ini, kami jadi saling kenal.

Aku tertarik padanya. Dengan dia yang apa adanya. Pendiam, dingin, dan dalam.

“Tttteeeettt!!!”

Klakson mobil barusan membuyarkan lamunanku. Spontan aku menarik tubuhku ke bahu jalan saat mau menyebrang dari FIK ke halte FKM. Aku sedang tidak fokus, tiba-tiba aku sudah mau menyebrang dengan pikiran yang masih kosong ini. Hampir saja aku tertabrak.

“Sari, kamu tidak apa-apa?” Ria yang berlari-lari kecil di belakangku mendekat untuk memastikan keadaanku.

“Yah, tidak apa-apa. Yah, “ napasku masih sesak. “Tadi hanya, hanya tidak fokus.”

“Napasmu sesak. Pasti kaget. Nih, minum dulu.” Ria mengeluarkan botol air minum dari tasnya, lalu mengelus-elus pundakku. “Ya, Tuhan,” Ria berbisik.

Aku bergidik. Aku menelan tegukan air terakhir dengan kasar. Aku merasa seolah dejavu. Ya, ini seperti pernah terjadi. Dituntun Ria aku menyebrang ke halte FKM untuk menunggu bus kampus lewat menuju asrama. Saat posisiku sudah nyaman di halte, aku memikirkan kembali perasaan dejavu barusan.

Aku tahu! Aku ingat!

Saat awal-awal datang ke Depok dari Batusangkar, aku harus menyesuaikan banyak hal, salah satunya jalan raya yang terlalu padat yang cukup menakutkan untukku pada awalnya untuk menyebrang. Saat itu, bulan Juli tahun lalu, aku baru saja kembali dari kosan senior SMA ku yang juga kuliah di UI. Aku bermaksud balik ke asrama. Namun, masalahnya, aku harus menyebrangi jalan raya Margonda, apalagi sore hari seperti itu, mobil-mobil melaju dengan sangat padat dan kencang.

Saat itu, aku hampir saja tertabrak oleh sebuah sepeda motor yang melaju kencang dari arah kanan. Aku luput memperhatikannya karena tiba-tiba saja sudah muncul di balik sebuah angkot yang berhenti. Aku selamat, karena tiba-tiba lengan kiriku ditarik oleh seseorang. Laki-laki yang memakai masker, mungkin lagi flu, menarikku sambil berkata sedikit teriak ‘awas mbak!!’. Nadanya yang panik juga membuatku makin panik. Lututku gemetar. ‘Taksi’, aku berbisik di balik gigiku yang bergemeletuk. Dia spontan menyetop sebuah taksi yang lewat di depan kami, dan membukakan pintunya untukku. Aku tidak bisa memikirkan apa-apa saat sendiri seperti ini. Aku masuk ke dalam taksi, dan sedikit akal sehatku muncul meyuruhku mengucapkan terima kasih. ‘Terima kasih’ ucapku lirih sambil menutup pintu taksi, dan ku pastikan mataku yang nanar tidak berfungsi dengan baik saat melihat ke arah wajahnya. Samar-samar, aku mendengar jawabannya.

“Sama-sama. Tenang, Mbak. Tuhan dan Mama masih menyayangimu.”

Kemudian taksi itu membawaku ke asrama, sementara aku masih sibuk mengumpulkan nyawaku yang berceceran satu-satu di jalanan.

“Sari,” Ria menyenggolku dengan sikutnya, “busnya sudah datang. Yuk!” Aku membetulkan letak tas sampingku dan masuk ke dalam bus yang tidak terlalu disesaki orang-orang. Di dalam bus, aku masih tidak bisa banyak bicara dengan Ria. Aku, dengan kebiasaan melamunku, sering membuatku terkurung di antara banyak orang seperti ini. Pikiranku samar-samar mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu itu. Dalam hatiku, aku mengucapkan terima kasih padanya, menyelamatkan hidupku. Laki-laki yang tak pernah akan ku ketahui siapa dirinya.

“Sari, tidak lupa kan, ini rapat terakhir roadshow KGTK? Harus datang ya!” Ria mengingatkanku.

“Ya, tentu saja.” Karena Dhanthes juga akan hadir, tentu saja. Dua minggu lagi, sejalan dengan berakhirnya ujian akhir semester beberapa hari yang lalu, kami akan pulang ke Batusangkar, dan menghabiskan sebulan liburan di sana. Selama seminggu kami akan menggelar roadshow KGTK untuk memfasilitasi adik-adik SMA di sana memperoleh informasi mengenai perguruan tinggi.

Aku menunggu saat itu!

***

“Oke, hari ini kita ke SMA 2. Semangat ya!”

Kami, sekitar 15 orang, berangkat dengan beberapa sepeda motor menuju sekolah yang dijadwalkan akan dikunjungi roadshow KGTK pada hari ini. SMA 2.

“Ai, boncengan sama aku aja, yuk!” Dhanthes menepuk-nepuk lembut jok sepeda motornya. Aku tersenyum mengiyakan. Dan, seperti itu saja. Aku lah yang ada di belakan dia saat dia mengendarai sepeda motornya.

Semenjak berada di Batusangkar, aku merasa Dhanthes mulai menghangat. Mulai mengobrol denganku dan teman-teman lainnya, bercanda, dan menunjukkan sikapnya yang ramah. Seolah menyadari sinyalku, atau aku yang terlalu merasa, dia seakan-akan sengaja hadir untukku yang merindukannya. Dia memilih pergi ke kelas bersamaku dibanding yang lain, di mana tiap dua orang dari kami harus masuk ke kelas-kelas memberi informasi. Dia mengajakku untuk boncengan dengannya kemanapun kami pergi.

Satu lagi, dia memanggilku ‘Ai’. Nama panggilan yang ku suka. Katanya, panggilan Ai lebih lucu dan terasa dekat. Tapi, yang ku pikirkan adalah, bukankah dalam bahasa Mandarin, Ài berarti cinta?

Itu menyenangkan untukku. Aku suka dengan seperti ini saja dengannya. Seperti ini saja, aku sudah bahagia. Aku suka dia dengan dia yang apa adanya untukku.

Tapi, selain tiu, aku mulai tidak bisa mengendalikan perasaanku yang dulu tenang padanya. Ada saat-saat aku merasa terganggu melihat sikapnya pada temen perempuan yang lain. Saat dia bertukar jakun dengan Roza, aku terganggu, seolah Dhanthes tengah memeluknya. Saat adik-adik SMA, ku lihat sengaja mencoba mendekatinya, ingin rasanya ku tarik dia menjauhi gadis-gadis bocah itu.

Kurasa, aku cemburu.

Hari terakhir roadshow KGTK, selain lega karena apa yang telah kami persiapkan selama ini dari jauh-jauh hari berjalan memuaskan, aku terganggu oleh fakta, bahwa aku tidak akan bisa sedekat ini lagi dengan Dhanthes. Setelah ini, aku akan menjalani aktivitas sisa liburanku dengan keluargaku, dan mengunjungi teman-teman lamaku. Setelah itu, saat kembali ke Depok memulai semester baru, kami akan susah sekali bertemu. Dia kos di Pocin, aku di masih di asrama, dia Fisip, aku FIK. Aku takut, momen-momen yang aku lalui bersamanya di sini akan menguap begitu saja tanpa bekas. Bagiku tentu saja ini sangat berarti, tapi bagi dia? Mungkin saja ini hanya sekedar cerita yang terlalu ringan untuk dibawa terbang oleh angin.

Satu minggu setelah roadshow terakhir, kami janjian berangkat bersama ke Bukittinggi untuk menghadiri acara Bedah Kampus. Mungkin ini kesempatan terakhir bagiku bersamanya ku pikir. Akan ku maksimalkan.

Ya, di sana aku juga minta tukaran jakun. Ya, seperti dipeluk olehnya. Hangat. Kami juga foto berdua. Ya, sedikit momen yang dibaginya bersamaku cukup memberikanku kenangan bahwa kami pernah seperti ini. Terserah nantinya akan seperti apa.

****

Saat ini, aku akan kembali ke Depok. Liburanku segera berakhir. Dhanthes mengantar keberangkatan kami ke bandara. Dia berangkat dengan pesawat lusa.

Hatiku gundah saat itu. Bagaimana tidak, berpisah lagi dengan keluarga besarku di sini. Selain itu, Dhanthes tidak berangkat bersama kami. Aku takut, ini benar-benar akhir dari kisah yang pernah kami buat bersama bulan ini. Aku takut kisah itu benar-benar menguap tak berbekas.

“Ai, kamu tak apa-apa, kan?” Dhanthes mengagetkanku. Dia mengamati wajahku cermat.

“Tidak, tidak apa-apa.” Aku mendengar suaraku sendiri berat saat menjawabnya.

“Baguslah,” dia mengangguk-angguk sambil mengalihkan perhatiannya ke teman-teman yang lain. Coba saja kau tahu apa yang membuatku cukup gundah.

Baiklah, aku tidak mengharapkan apa-apa lagi darinya. Mungkin awalnya ku hanya mencoba untuk bermain-main, tapi sepertinya aku telah bermain terlalu jauh, yang bisa saja nantinya membuatku diriku sendiri jatuh. Ku perhatikan caranya memperlakukan teman-teman yang lain. ‘Sepertinya sama’, aku memaksakan diriku. Aku mulai berpikir, bisa saja aku yang terlalu naif, salah mengartikan sikapnya padaku. Aku pikir, setelah ini, aku juga harus menguapkan rasa itu lagi, seiring cerita kami yang telah selesai.

Fyuuuh, aku menarik napas begitu berat. Petualanganku telah berakhir.

Ini sudah saatnya, kami menarik carry on luggage kami masing-masing ke dalam. Di belakang kami, para keluarga melambaikan tangannya melepas keberangkatan kami. Aku benci suasana seperti ini. Aku tidak suka! Ku pastikan wajahku saat ini cembetut lagi. Aku berdiri di barisan paling belakang anak-anak ini saat hendak benar-benar masuk.

Saat itu, aku mendengar dia berteriak. Aku tahu itu suaranya. Ya, itu dia!

“Ai, jangan cemas. Tuhan dan mama masih menyayangimu!!”

Terima kasih telah menyempatkan diri untuk membaca cerpen yang satu ini🙂

Mohon tanggapan, kritik dan sarannya🙂

Cerita ini based on true story + khayalan gila penulis #wink

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s