Baby Sky

If I Could Make a Wish

Pikiranku begitu kusut. Hari ini Ujian Akhir Semester pertamaku, dan aku merasa gagal memenuhi target IPK nantinya. Huah, sial. Bagi mahasiswa semester pertama sepertiku, aku tak pernah tahu UAS akan seperti ini adanya. Aku merasa gamang memikirkan UAS besok dan lusa. Halte tempatku menunggu bus kampus serasa sepi saja. Tak ku hiraukan orang-orang mondar-mandir di depanku. Dan suara-suara yang ada terdengar seperti bisikan saja di telingaku.

“Ranti, aku duluan ya.” Suara Debby mengalihkan perhatianku. Bus menuju kampus sudah datang, dan Debby yang dari tadi duduk di sebelahku pamit. “Oke. Sampai jumpa di asrama,” balasku.

Tiba-tiba ku sadari dari arah seberang bus kuning kampusku datang menuju asrama. Aku segera bangkit dan menyeberang. Begitu pintu terbuka, aku masuk lewat pintu belakang karena bagian depan masih didesaki oleh orang-orang yang turun. Di bagian belakang bus sangat sepi. Hanya ada aku dan seorang lelaki. Tunggu. Sepertinya ada yang aneh wajahnya. Ada sesuatu di wajahnya yang membuatku harus menatapnya beberapa saat. Dan, oh! Dia langsung menoleh padaku. Sepertinya dia sadar aku menatapnya barusan. Aku langsung memalingkan wajahku ke depan.

Tapi tetap saja godaan untuk menoleh kembali ke dia sangat besar. Oke, Ranti, cukup hapalkan wajahnya, kembali melihat lurus ke depan, nanti di kamar renungkan kembali. Aku dengan caraku mencuri pandang ke arahnya, seperti sebuah kamera ku capture wajahnya, dan saat ku hendak kembali menoleh ke depan, dia menangkap mataku dengan matanya. Tuhan! Aku tahu matanya! Aku mengenalnya!

Bus telah berhenti di depan asrama. Aku langsung turun begitu pintunya terbuka. Saat itu pulalah, aku mendengar lelaki yang berjalan di belakangku itu menyapa temannya yang sedang duduk di halte.

“Woi, mau ke mana?”

“Eh, Irfan. Ini, MPKS.”

Oke, namanya Irfan. I got it!

Sebelum kembali ke kamar, aku ke kantin dulu. Biasanya saat pikiranku sedang kacau, yang ku pikirkan adalah menyumpal mulutku dengan sesuatu. Dan ku pikir, sekarang jadwalnya es krim yang bertugas menyumpal mulutku sekaligus otakku dari hal-hal yang menggangu. Oh, pikiran tentang UAS tadi kembali membuatku harus memikirkan besok dan lusa. Apa kabarnya? Dengan agak kasar ku buka ice box dan mengambil es krim kesukaanku, coklat kacang. Saat akan menutup kembali dengan kasarnya lagi, tiba-tiba ada tangan yang hendak masuk ke ice box itu. Ups! Aku menjepit punggung tangannya dengan kasar. Aku mendongak dan kaget saat menyadari orang itu adalah laki-laki yang duduk bersamaku di bus tadi. Dia sempat ku lihat meringis sesaat.

“Maaf. Tidak sengaja. Tidak apa-apa?”

“Ah,” desahnya sambil mengibaskan pergelangan tangannya di udara, “tidak apa-apa.” Cukup lega mendengarnya. “Paling, nyeri beberapa hari.” Benarkah? Ah, sial!

Kemudian dia kembali membuka tutup ice box itu dan, sambil membayar es krimku, diam-diam ku amati, dia mengambil es krim yang sama denganku. Dan apa hebatnya dia? Dia ternyata memperhatikanku memandang es krimnya dan es krimku secara bergantian. Aku kedapatan lagi. Ketika mas-mas kantinnya masih mencari-cari recehan untuk uang kembalianku, laki-laki itu menaruh beberapa lembar ribuan di atas ice box dan berbalik pergi.

“Ini, mas, uangnya,’ ucapnya sambil berlalu.

Otak tajamku berpikir, dia tahu persis harga es krim ini. Mungkin ini adalah es krim kesukaannya pula. Hmmm. Aku mulai menerawang pada lembar-lembar komik yang sangat ku sukai. Cerita standar, saat seorang gadis tidak sengaja bertemu dengan seorang laki-laki, tertarik, atau bertengkar dulu, lalu saling suka.

Shit! Apa yang ku pikirkan. Pikiran jernihku kembali menyadarkanku. Sekarang bukan saatnya berfantasi lagi. Tiga hari ini adalah UAS yang akan menentukan IP pertamaku, harapan orang tua ku, kerja kerasku enam bulan ini, dan tentunya masa depanku juga. Aku, sambil berusaha tetap fokus bergegas menuju kamarku di gedung F2 sambil melumat es krim coklat kacang ini.

***

Sekarang aku tanpa beban. UAS yang membuatku mengurung diri di kamar telah pergi jauh-jauh. Yeay! Aku ingin melakukan banyak hal yang harus ku tunda beberapa minggu ini karena mempersiapkan UAS.

Ah! Es krim! Terakhir aku menikmati es krim adalah hari pertama UAS. Lalu aku sengaja menghindarinya mengingat dia berpotensi mengganggu kesehatanku dua hari ini. Tapi sekarang ujian itu telah pergi. Aku buru-buru ke minimarket yang ada di fakultasku. Seperti biasa, aku mengambil es krim coklat kacang yang sangat menggiurkan itu. Setelah membayarnya, aku segera keluar. Dan saat itulah aku melihat laki-laki itu menuju mini market ini dengan sepeda kampus. Dia melihatku juga, dan sepertinya masih mengingatku.

“Oh, tanganmu.” Aku terkesiap saat melihat ada perban di punggung tangannya yang sedang memegang setir sepeda.

“Oh, ini.” Dia mengangkat tangannya di udara. “Jangan khawatir. Ini bukan karena terjepit tutup ice box kemarin. Tadi pagi ada sedikit kecerobohanku yang membuatnya sedikit cedera. Tenang saja, kau tidak begitu kuat untuk menyederaiku seperti ini.” Dia menutup kalimatnya dengan sedikit senyum yang tanggung menurutku, dan matanya menyipit hilang saat tertawa.

“Oh, sukurlah,” ucapku, dan kaget saat menyadari es krim sudah meleleh hingga jari-jariku. Dia memperhatikanku yang refleks menjilati jari-jariku yang belepotan coklat.

“Hei, apa es krim itu masih ada di dalam?”

“Oh, ada.”

“Kalau begitu, boleh aku titip sebentar sepeda ini di sini?”

“Kenapa? Bukannya aman?”

“Entahlah, tapi bisa mencegah kehilangan,” ucapnya dengan ekspresi seperti dibuat-buat menurutku. “Sebentar saja.”

“Baiklah,” jawabku sekenanya.

Belum lama dia masuk, ternyata dia sudah berdiri di belakangku sambil mengulum es krim coklat kacang persis seperti yang ku makan sekarang, dan yang kita makan beberapa hari yang lalu.

“Kau juga suka es krim ini ya?” ucapnya memulai percakapan lagi.

“Ya,”jawabku.

Dia melanjutkan obrolan-obrolan ringan ini, dengan topik seputar es krim ini. Sejak kapan kita suka, es krim apa yang menurut kami tidak enak, dan kenapa coklat kacang terasa sangat nikmat. Aku duduk bersandar di sepedanya yang diparkir dan dia berdiri di depanku, tentu saja, sambil menikmati es krim masing-masing.

“Eh, kamu memang selalu belepotan ya kalau makan es krim?”

Sial! Kebiasaan burukku saat makan es krim, apalagi kalau sudah ngobrol. Memutar-mutar stiknya sehingga mulutku akan belepotan. Aku buru-buru mengambil tisu dari dalam tas dan membersihkan mulutku. Yang bisa ku bilang, ya, ‘maaf, ini kebiasaanku.’

Setelah mungkin lebih dari sepuluh menit kita ngobrol, es krim kami habis sudah.

“Oke, aku duluan ya,” ucapku sambil kembali membersihkan mulutku. “Kamu asrama juga kan? Mungkin bertemu lagi.”

“Hei,’ dia mencegatku dengan ucapannya. “Ngomong-ngomong kita belum kenalan. Aku Irfan, Hukum 2010. Kamu?”

“Oh, iya. Aku Ranti. Psikologi 2010.”

“Senang, bisa ngobrol denganmu.”

“Iya, sama. Aku juga.”

Aku berbalik menuju halte di depan. Sedangkan dia menuntun kembali sepedanya, dan mengayuhnya ke arah berlawanan.

***

Sekarang sudah jam delapan malam. Aku masih memikirkan laki-laki itu. Sejak pertemuan di depan minimarket dua minggu yang lalu, aku sering bertemu dengannya di asrama, maupun di kampus. Maklum, psikologi dengan hukum bersebelahan. Saat bertemu kami biasanya hanya bertegur sapa, atau dalam beberapa kesempatan di kantin asrama ngobrol halhal yang ringan. Aku tahu, Aku Suka Dia. Aku suka caranya berbicara, aku suka wajahnya saat menikmati es krim, aku suka caranya menatapku saat celotehanku lucu baginya.

Tapi, makin dipikirkan, dia makin mirip seseorang. Tapi, siapa? Aku tidak ingat. Lalu suara berisik di depan kamarku mengalihkan perhatianku. Aku tahu suaranya.

“Guys! Ada pengumuman nih!” Ternyata, Lany yang suaranya heboh masuk ke kamarku sambil memboyong dua orang teman kami lainnya, Ami dan Sari. “Kalian ingat kan, laki-laki yang jadi gebetanku sebulan yang lalu?”

Kami semua mencoba mengingatnya.

“Ya, tapi bukannya kau hanya memperlihatkan pada kami fotonya saja?” tanya Sari.

Foto! Aku tiba-tiba ingat sesuatu. Tepat saat Lany memperlihatkan kembali foto gebetannya pada kami semua aku serasa tercekik. Irfan! Aku baru ingat. Dia Irfan! Wajar saat pertama di bus kampus aku merasa familiar dengan wajahnya.

Lalu Lany menceritakan kembali awal kedekatannya dengan Irfan pada kami. Sebulan yang lalu, Lany ke minimarket psikologi untuk membeli es krim blueberry kesukaannya. Ternyata kebetulan stoknya sedang kosong. Ogah-ogahan Lany melirik es krim coklat kacang yang tersisa satu lagi. Kebetulan saat dia hendak mengambil es krim tersebut tiba-tiba satu tangan laki-laki juga memegang es krim yang sama. Lany kaget dan laki-laki tersebut membiarkannya mengambil es krim coklat kacang terakhir itu. Meskipun tidak terlalu doyan, cuma karena terpesona oleh kebaikan laki-laki itu Lany pura-pura girang mendapatkan es krim kesukaannya.

Beberapa hari kemudian Lany tahu laki-laki itu teman satu fakultasnya dan sempat bertemu beberapa kali. Dan Lany juga sempat mentraktirnya makan es krim coklat kacang, katanya sebagai balas terima kasih memberikannya es krim coklat kacang terakhir tempo hari.

Aku memperhatikan mimik Lany selama menceritakan Irfan. Ya, sesuai penilaianku. Irfan laki-laki yang baik dan tidak macam-macam. Kemudian Lany menceritakan sudah sejauh mana hubungan mereka. Belajar dan makan siang bersama di kampus, pulang bareng, dan lainnya. Aku tahu, Lany menyukainya. Dan sepertinya, Irfan juga nyaman bersamanya.

Malam itu, aku memikirkan banyak hal yang membuatku otakku berputar-putar. Aku takkan mampu mengakui kalau aku juga menyukai lelaki yang sama dengan yang disukai sahabatku sendiri. Dari wajahnya saat menceritakan Irfan, aku tahu seberapa Lany menyukainya pula. Lagi pula, Lany sudah lebih dulu kenal dan menyukai Irfan. Bagaimanapun, aku baru tiga minggu ini mengenal dan tertarik dengan Irfan.

Tapi, ada hal-hal aneh yang juga berseliweran di kepalaku. Hal-hal yang mengalahkan logikaku, dan mengusung fantasi-fantasi serta harapanku. Apa jadinya jika saat itu Lany tidak hendak beli es krim? Apa jadinya jika saat itu es krim blueberry kesukaan Lany tidak habis? Apa jadinya jika es krim coklat kacang saat itu masih tersedia banyak? Apa jadinya jika AKU lah yang lebih dahulu dikenal oleh Irfan daripada Lany? Mungkin situasinya akan jauh berbeda. Tapi hanya saja jika aku bisa membuat satu harapan.

Aku memeluk boneka kepala sapiku. Ku cubit-cubit hidung hitamnya yang besar. Sudah ku putuskan. Apapun resikonya pada diriku nanti, aku akan menjaga jarak dengan Irfan. Toh, dia lelaki yang baru ku kenal dua minggu ini. Takkan ada yang berubah pada diriku jika ku menjauhinya. Aku yakin! Bukan suatu hal yang besar jika aku melupakan perasaanku padanya.

Tapi aku tidak janji akan bisa melupakannya setiap aku makan es krim coklat kacang seperti biasanya.

=IRFAN=

“Kalau begitu, boleh aku titip sebentar sepeda ini di sini?”

“Kenapa? Bukannya aman?” tanyanya kebingungan.

“Entahlah,” jawabku sambil berpikir, “tapi bisa mencegah kehilangan, sebentar saja.”

“Baiklah,” jawab gadis itu bingung sepertinya.

Aku melangkah ke dalam mini market. Di balik pintu ku perhatikan punggungnya. Ya, tentu saja tidak akan terjadi apa-apa pada sepeda itu. Yang ku takutkan, jika aku tidak menahanmu di sini saat ini, aku akan kehilangan momen untuk bisa memulai obrolan denganmu. Aku akan menahanmu.

***

Oke, itulah cerpen singkat barusan. Sebagian besar dari kisah nyata, lalu sebagian adalah obsesi penulis, dan fantasi-fantasi Ranti.. ^^ (moga jadi kenyataan ya Nti.. )

Silakan tanggapan, kritik, dan sarannya…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s