Baby Sky

Don’t Ask Me to Let My Feelings Out!:: Story of Debby

 

Suasana kantin asrama malam ini ramai layaknya malam minggu-malam minggu sebelumnya. Tentu saja, setelah lima hari menjadi manusia abnormal yang berkutat antara kampus dan kamar, Sabtu malam menjadi manusia seutuhnya kembali. Semuanya bisa berkumpul bersama teman-teman dan berbagi banyak hal. Dan kantin asrama ini, merupakan salah satu tempat yang favorit.

Malam ini, aku sedang duduk di sebuah meja kantin bersama enam orang temanku lainnya. Ada Ami, Roza, Sari, Edo, Widio dan Dodi. Sambil menyantap makan malam, kita memulai obrolan dengan sangat renyah.

“Debby,” sahut Roza yang duduk di sebelahku. “Nanti buat UAS kita belajarnya bareng lagi ya!”

“Ok,” jawabku.

Roza, merupakan sahabatku yang paling lama di antara enam orang ini. Bayangkan saja, kita satu SMP selama tiga tahun, satu SMA, dan sekarang satu kampus. Bahkan, soal kamar asrama pun kita satu gedung, gedung E. Berbeda dengan teman-teman SMA ku lainnya yang semuanya berada di gedung F. Roza, aku suka menjadi temannya. Dia gampang bergaul dengan orang-orang baru. Menyenangkan.

Tapi, hal itu pulalah yang akhir-akhir ini membuatku iri. Dia, dekat dengan Edo. Ya, sejak acara di puncak beberapa minggu yang lalu, aku rasa aku tertarik padanya. Bukan, maksudku, aku terlalu kikuk jika ada di dekatnya. Aku selalu mencoba untuk menghindarinya, takut kalau nanti aku akan melakukan hal-hal yang bodoh karena tidak bisa berpikir jernih bila di dekatnya. Dan Roza, gampang sekali menjadi akrab dengannya. Aku tidak nyaman.

Seperti malam ini.

“Bagaimana kalau kita sekarang main truth and dare?” usul Edo pada kami. Dia sudah mengambil ancang-ancang untuk memutar botol air mineral bekas di atas meja.

“Tidak, aku tidak ikut,” jawab Widio. Kami semua menoleh padanya. Terang saja. Dia menyembunyikan banyak hal dari kami. Seberapa keras kami meminta dia bermain ini, dia tak akan pernah mau. “Aku menganggap kalian keluargaku, dengan caraku sendiri. Bukan berarti harus berbagi semua rahasiaku pada kalian.”

Oke, alhasil kami berlima bermain truth and dare sementara Widio hanya duduk menyimak jalannya permainan. Dan aku, aku cukup takut jika nanti nyasar satu pertanyaan yang menodongku dan memaksaku untuk jujur. Tapi, aku akan tetap coba untuk lanjut bermain.

Botol diputar dan saat berhenti mengacu pada Roza, kemudian Roza memutar botol itu kembali dan mengarah pada Sari.

“Sari,” Roza memulai pertanyaannya, “first lovenya kapan?” Mata Roza menilik, seolah sedang memecahkan kasus yang rumit dan berbahaya.

“Hm, kelas dua SMP!”

“Hah, siapa?” tanya kami serempak.

“Lho, pertanyaannya kan kapan saja kan, pertanyaan lanjutan nanti kalau aku dapat jatah lagi,” jawab Sari membela diri.

Kemudian botol diputar-putar lagi, hingga setelah beberapa saat, botol untuk menjawab mengacu padaku. Dan yang bertanya adalah, Edo. Asem!

“Debby,” Edo memulai dengan sangat pelan. Sial! Aku tidak bisa mendengarkan suaranya dengan baik jika jantungku saja sudah berdebar begini, “di antara laki-laki tiga orang ini, ada tidak yang kau sukai?”

“Tidak!” Aku spontan menjawab. Dua detik kemudian aku baru bisa berpikir apa yang kau katakan barusan. Reflek! Tapi untungnya spontanitasku bersifat defensif yang melindungiku dari kecurigaan umum mengenai perasaanku sebenarnya pada Edo. Untung spontanitasku tadi tidak terus terang mengatakan yang sebenarnya.

Oke, sepertinya tidak ada tanggapan yang lebih dari teman-teman. Aku bebas. Selanjutnya, Sari dapat giliran bertanya pada Edo.

“Edo, di antara empat orang perempuan di sini, adakah yang kau suka?”

Pertanyaan apa ini? Aku nyaris merasa menyesal telah bersedia mengikutinya. Apapun jawabannya, apa aku akan sanggup mendengarnya? Huah!

“Ada,” jawab Edo, terdengar seperti terbebani dengan jawabannya. Dan aku, lebih terbebani lagi dengan satu kata pendek barusan. Serempak meja menjadi riuh oleh celotehan teman-teman.

Ada! Di antara kami! Siapa? Sari? Ami? Roza? Atau, aku? Tidak, aku tidak akan sanggup membayangkan keadaan sebenarnya. Siapa? Tapi, tadi pertanyaannya adalah ‘adakah’ bukan ‘siapakah’, sehingga untuk meneruskan pertanyaan harus diundi lagi hingga dia mendapatkan jatahnya. Aku berusaha agar tetap fokus dan tidak menjadi galau sendiri.

Selama permainan, semua orang berusaha agar botol jawaban berhenti berputar mengarah pada Edo. Sayang sekali, sudah lebih dari satu setengah jam, tak sekalipun botol jawaban mengarah padanya. Teman-teman yang lain begitu bernafsu mencoba keberuntungannya untuk menjebak Edo, tapi tetap saja gagal. Yang jelas, yang tidak tertarik untuk mengarahkan padanya hanya aku saja. Tunggu! Aku? Bukan! Ku perhatikan Roza tidak begitu tertarik untuk menjebak Edo dengan putaran botolnya, seolah dia sengaja memutar botolnya dengan perhitungannya tidak akan berhenti mengarah pada Edo. Mengapa? Apa dia tahu jawabannya dan tidak ingin Edo terpaksa mengatakannya? Aku tidak nyaman karena ini.

Malam mulai larut, dan kantin beranjak sepi. Satpam sudah mematikan beberapa lampu di kantin. Widio sudah tertidur di meja sementara kami masih saja bermain. Sudah lewat jam 12 malam saat akhirnya botol jawaban mengarah pada Edo. Seisi meja bersorak riuh. Inilah yang mereka tunggu-tunggu dari tadi.

“Oke, Edo. Jangan mengelak lagi,” ucap Ami dengan nada yang terdengar licik. “Jadi, siapakah perempuan itu?”

Aku sudah mempersiapkan diriku dari tadi dengan jawaban yang akan terlontar dari mulut Edo. Ku lihat Edo kesusahan juga untuk menyebut satu nama itu. Sepertinya, dia dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit. Kami menunggu jawabannya begitu lama. Sempat beberapa kali dia terlihat ingin mengucapkan satu kata, lalu mendesah lagi dan mengurungkan niatnya.

“Ayolah, ucapkan saja satu nama, lalu kita kembali ke kamar masing-masing. Ini sudah terlalu larut,” desak Sari.

“Oke,” sahut Edo. Kuperhatikan dia sempat balas-balas lirik dengan Roza. Ada apa? Aku sangat risih melihatnya. “Dia adalah,” aku menggigit bibir bawahku, ku kepalkan kedua tanganku di balik meja, “ROZA!”

Aku mendengarnya dengan sangat jelas. Sangat jelas!

***

“Roza, kita sudah dengar pengakuan Edo barusan,” ucapku mengawali obrolan saat kami kembali ke kamar di gedung E. “Kamu bagaimana?”

“Menurutmu?” jawab Roza absurd sambil tersenyum. Aku tak perlu bertanya apa-apa lagi menurutku. Aku sudah mengerti sepertinya.

***

Aku mencoba menjernihkan pikiranku kembali setelah malam itu. Ini bukan aku jika harus kalut gara-gara hal bodoh seperti ini. semenjak malam itu. Ya sudahlah, perintahku pada diri sendiri. Ini bukan apa-apa. Tapi tetap saja ada hal-hal yang membuat aku harus mengingatnya lagi. Misalnya saat aku sedang di kamar Roza untuk belajar, saat dia ke kamar mandi aku mendengar nada smsnya berdering, dan di layarnya tertera nama Edo. Aku memasang pertahanan berlapis-lapis lagi. Seperti memeluk erat-erat dadaku agar tidak tercabik oleh apapun.

Beberapa hari selanjutnya, Edo mengirim sms padaku. Katanya dia ingin aku menemaninya membeli hadiah untuk Roza. Aku, meski awalnya sangat kaget dan tak habis pikir, dengan bodohnya langsung menjawab ‘ok’ dan sent!

Kami berdua mencari-cari hadiah untuk Roza di Detos. Aku langsung membawanya ke toko boneka. Dia menanyakan pendapatku tentang boneka-boneka yang dipajang di sana. “Aku sih suka yang ini,” ucapku sambil menunjuk satu boneka panda di etalase. “Tapi sepertinya, Roza tidak suka deh. Dia kan suka warna pink. Mungkin babi ini lebih menarik untuknya.” Aku berbalik menunggu tanggapannya. Tapi ternyata dia sedang menatapku dengan cara yang asing. “Kenapa?” tanyaku.

“Tidak, tidak apa-apa. Kalau begitu boneka panda saja,” putusnya.

“Lho, bukannya ku bilang kalau Roza,” ucapanku terpotong saat penjaga tokonya mendekati kami dan berbicara dengan Edo. Boneka itu dibungkus dengan kotak kado, kemudian kami kembali ke asrama.

“Terima kasih,” ucapnya padaku.

“Ya, sama-sama,” jawabku. Terima kasih juga membuatku berpotensi menjadi lebih gila gara-gara hari ini. Aku kembali berpikir, kenapa harus mengajakku. Oh, iya. Karena aku sahabat terdekat Roza, jadi dia pikir aku yang paling taho Roza. Bagus, dia membuatku kembali memikirkannya, memikirkan perasaanku padanya. Aku lagi-lagi LABIL!

***

Liburan semester satu telah datang. Hari ini aku akan terbang ke Padang, ke tempat orang tuaku berada untuk menghabiskan masa libur satu bulanku. Roza tidak pulang, dia akan mengambil sebuah kelas les kimia selama liburan. Dan parahnya, Edo juga kebetulan tidak pulang. Mereka akan tetap di asrama. Aku tak memikirkan bagaimana kelanjutan hubungan mereka setelah satu bulan ini nantinya.

Roza membantuku membawa koper dari gedung E ke gazebo depan. Teman-teman yang lain sudah lama balik ke Padang karena liburan mereka lebih awal. Sebentar lagi taksi yang akan membawa ku ke bandara akan datang.

“Apa kau tidak akan pamit pada Edo?” tanya Roza.

“Tidak, tidak usah,” jawabku.

“Kenapa? Jika kau berubah pikiran saat ini, kau masih punya beberapa menit untuk mengatakannya. Dia lagi di asrama.

“Kau kenapa? Apa masalahnya jika aku tak pamit padanya?” Suaraku agak meninggi. Aku tarik dengan kasar koperku hingga ke ujung gazebo, meninggalkan Roza di belakangku.

“Sampai kapan kau akan menipu dirimu sendiri? Kau menyukainya kan? Aku sudah lama memperhatikanmu, Debby!”

“Kau salah!” teriakku tanpa menoleh padanya dan masih menarik koper yang berat itu.

“Hei! Kau akan berpisah dengannya satu bulan ini. Bagaimana jika nanti tidak ada kesempatan untukmu mengakui yang sebenarnya padanya? Apa kau tidak berpikir tentang kami di sini satu bulan ke depan? Bagaimana jika setelah satu bulan ini, kita tidak hanya sekedar teman lagi? Kau akan baik-baik saja? Tidak apa-apa?”

Aku merasakan dadaku sesak. Ku hempaskan koperku di lantai, dan berbalik begitu cepat ke arah Roza. “Ya! Aku menyukainya! Aku benci saat melihatmu sangat dekat dengannya. Aku marah pada diriku yang begitu kaku saat bersamanya. Aku pengecut yang takut menunjukkan bahwa aku dibuat galau olehnya. Lalu kenapa? Apa aku harus mengatakannya? Tidak! Aku tidak akan!” Dengan napas yang sesak aku buru-buru berbalik dan melihat taksiku sudah datang. Sopir taksi itu membantu memasukkan koperku ke dalam bagasi. Saat ku hendak membuka pintu belakang, satu tangan yang besar menahannya.

“Debby, akulah yang pengecut.” Demi apapun. Aku kaget setengah mati. Edo sudah berdiri di sampingku. “Maafkan aku yang dari awal tak mampu mengatakan yang sebenarnya. Aku sudah terlalu lama menyimpannya, dan Roza satu-satunya orang yang ku percayakan cerita ini padanya. Jika ku ingin tahu kau sedang di mana dan melakukan apa, aku akan mengirimnya sms. Malam itu, aku benar-benar tak sanggup mengatakan namamu. Makanya aku memilih nama Roza karena dia paling tahu keadaan sebenarnya. Mengajakmu membeli hadiah, awalnya ku pikir aku akan sanggup mengatakan hal ini padamu. Tapi lagi-lagi aku terlalu takut.” Aku ataupun Edo sama-sama sesak mendengar penjelasannya. Otakku memburam.

“Sekarang, aku akan mengakuinya, aku,”

“Hentikan!” teriakku. “Tega sekali kau bicara seperti ini. Kau pikir gampang bagiku menjalani hari-hari setelah malam itu? Kau bisa bayangkan betapa gilanya aku saat mendengar nada hape Roza berdering, membuatku selalu berpikir itu darimu. Mencoba bersikap pura-pura tidak tahu dengan perasaanku yang kacau karena memikirkan kedekatan kalian? Tega sekali kau membohongi dan membuatku berpikir bahwa aku benar-benar sudah gila gara-gara hal yang bodoh ini?” Ku rasakan suaraku serak dan kedua bola mataku menjadi hangat. “Jangan berkata apa-apa lagi padaku!”

Dengan kasar ku buka pintu taksi. Saat setengah badanku sudah masuk ke dalam taksi, dan tanganku akan menarik pintunya, Edo dengan satu tangannya menahan pintuku. “Oke, aku terima kau marah dan benci padaku. Tapi, kau mau dengar ataupun tidak, aku akan tetap ingin mengatakan ini. Aku menyukaimu. Aku ingin tetap menyukaimu. Aku juga sangat kacau bahkan gila oleh keadaan seperti ini. Tapi aku menyukainya. Karena itu KAU. Meski bagimu ini perpisahan, bagiku ini penantian. Aku ingin hingga kau kembali nanti aku masih bisa melihatmu seperti ini.”

Aku tidak bohong. Air mataku jatuh. Saat dia mengucapkan itu kaki kiriku masih di luar, sedangkan tanganku kiriku yang memegang kenop pintu freeze di sana. Kemudian bisa ku rasakan tangan Edo hendak menutup pintu taksi. Tapi, aku refleks berbalik menahan dan berdiri menghadapnya. Aku tak peduli dengan mataku yang makin menghangat. Dengan suara parau, aku mencoba emengatakan padanya, bahwa,

“Aku harap, hingga aku kembali nanti, kau masih bersedia menyisihkan satu tempat di hatimu untukku.”

Aku tak ingin melihat ekspresi apa-apa di wajahnya. Aku langsung berbalik dan masuk ke dalam taksi. “Jalan, Pak.” Kemudian, tanpa melihat ke belakang, taksi ini melaju meninggalkan asrama. Satu bulan lagi, aku ingin masih bisa melihatnya seperti ini. Aku ingin.

***

Oke, itulah endingnya. Adapun nama, peristiwa, dan tempat di sini adalah samaran belaka (kalau ada yg merasa tersinggung, berarti iya🙂 ) Hanya untuk hiburan saja. Hahaa.. Hampir keseluruhan adalah hasi ngayal penulis semalaman suntuk sambil main kartu UNO.🙂 Sadar masih banyak kekuarangan di sana sini, mohon tanggapan kritik dan sarannya.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s