Baby Sky

Paradigma, Pembatasan Kebebasan Atau Pengarahan?

Manusia merupakan makhluk berakal yang mampu menafsirkan hal yang terjadi di lingkungannya. Segala tafsiran dan refleksi dari dirinya menjadi pengetahuan bagi manusia itu sendiri yang dapat membentuk pandangan dasarnya. Pandangan dasar menentukan keluaran asumsi, cara pandang, pemahaman, dan citra subjektif seseorang. Menurut Kuhn dalam buku The Structure of Scientifi Revolution (Kuhn, 2002), cara pandang terhadap suatu obyek merupakan paradigma. Paradigma menentukan cara seseorang menanggapi dan menyelesaikan sesuatu. Saat seseorang menanggapi sesuatu, berarti dia sedang menjelaskan paradigmanya tentang hal tersebut, dan berarti menjelaskan dirinya sendiri. Paradigma dapat menuntun seseorang untuk berperilaku sesuai dengan prinsip yang dianutnya selama ini. Jadi, paradigma sangat mengarahkan cara berpikir dan bersikap seseorang.

Namun kenyataannya, banyak perubahan revolusioner di dunia ini terjadi akibat keluar dari jalur paradigma yang telah lama dianut masyarakat selama ini. Mereka memutuskan diri dengan tradisi, cara berpikir, dan paradigma yang lama. Arahan-arahan yang mereka dapat dari paradigma lama ditinggalkan atau pun diperbarui. Hal ini dapat terjadi karena paradigma dapat menjadi hal yang membatasi kebebasan berpikir seseorang. Perubahan paradigma menggerakkan seseorang untuk beralih dari satu cara pandang ke cara pandang yang lain. Peninggalan dan atau pembaruan paradigma dapat membuat seseorang lebih membuka pikirannya terhadap hal-hal baru.

Untuk memahami dua kata kunci di atas, yaitu pembatasan kebebasan dan pengarahan, kita perlu ingat bahwa paradigma sebagaimana manusia itu sendiri dapat berubah. Paradigma tercipta tanpa disengaja oleh manusia yang menentukan cara berpikir manusia itu sendiri terhadap sekelilingnya.  Paradigma dibutuhkan oleh manusia agar memiliki landasan berpikir yang jelas tentang hal-hal yang dilakukannya. Paradigma yang terbentuk matang di kepala seseorang dapat membuatnya makin bertanggungjawab terhadap apa yang dilakukannya. Tapi bukan berarti kita tidak boleh melihat melalui cara pandang yang berbeda hanya untuk sekedar memahami pemikiran orang lain. Mencoba ‘mengintip’ cara berpikir orang lain dapat memunculkan ide-ide segar yang bisa saja melahirkan teori baru dan inovatif serta mengubah paradigma ke arah yang lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s